
Palembang, 5 Agustus 2008
Saya mencintai pasangan saya. Kami membuat janji untuk bertemu dan menonton film di 21. Saat tiba di lokasi, saya menerima sms, begini bunyinya:
"a kita gak usah nonton ya, mau ketemu ama temen dulu. maaf ya a".
Kira2 begitu bunyinya.
Dgn jantung yang berdegap kira2 3x lebih cepat dari normal, saya menelepon dia. Kalo tidak salah, begini isi percakapan itu:
Saya: ade lagi dimana?
Pasangan saya: sama temen a?
Saya: Kok gak jadi nonton sama a?
Pasangan saya: tadi ketemu temen, gak enak a soalnya dia baru dateng ke palembang. Temen smp ku a.
Saya: Kamu janjian sama siapa?
Pasangan saya: Sama a.
Saya: ketemunya sama siapa?
Pasangan saya: ya, kita gak jadi aja hari ini. Besok aja.
dan seterusnya.
Akhirnya saya mendatangi dia dan teman2nya.
Nonton bareng mereka.
Tujuan tercapai, nonton bersama pasangan saya, plus teman2nya.
Sesungguhnya, kejadian nonton itu bukan sepenuhnya seperti yang saya harapkan. Ia lebih banyak bersama teman2nya dalam bercakap2 daripada kepada saya.
Tapi apa yang bisa saya harapkan. Sebagai orang yang 5 tahun lebih tua dari dia, saya harus mengalah dalam diam. Daripada mulut saya yang kadang2 sangat pedas ini mengeluarkan kata2 tajam dan pasangan saya mendiamkan saya seminggu lebih. Mengalah, sekiranya, lebih baik.
Saya pulang lebih dulu pada pukul 8 malam. Ia terus bersama temannya. Ia sampe di rumahnya kira2 pukul 11 malem lewat 15 m3nit. Saya tahu karena saya meminta dia memberi kabar lewat sms ketika dia pulang.
Ketika sampai di rumah saya merenung. Apakah saya sudah sedemikian berubah dari saya yang dulu?
Apakah ini perubahan yang positif?
Dulu tidak seperti itu, saya akan meluapkan perasaan saya. saya akan marah bila dibuat seperti itu. Saya akan berteriak-teriak. Dan saya akan merasa nyaman setelahnya. Lalu menyesal. Dan meminta maaf.
Sekarang, saya hanya menahan kemarahan di balik dada saya. Bergemuruh memang. Tapi gemuruh itu, lebih mengarah ke mata dari pada mulut.
Apakah ini perubahan yang baik?
Semalam juga, saya mengalami tumpang tindih rasa, perasaan yang campur aduk.
Mulai dari kecewa, lalu marah, kemudian takut ditinggalkan, dan lagi sedih, dan juga perih hati, kemudian lagi kangen, berlanjut dgn kesepian, dst. Semuanya bertumpang tindih dan bercampur aduk. Es campur enak, perasaan campur, sungguh tidak enak.
Tertidur saya kemudian. Tanpa mimpi. Terbangun pada waktu fajar, dgn perasaan yang sama ketika saya belum tertidur. Sungguh perasaan yang aneh ketika bangun pagi2.
Pagi ini saya berusaha kembali ke masa lalu. Apakah saya pernah mengalami hal ini dahulu kala. PERNAH, ini pernah terjadi. Bahkan jauh lebih dahsyat. Ketika pasangan saya pada masa lalu berubah tingkah laku karena perasaannya kepada saya mengalami penurunan intensitas dan akhirnya hilang. Sungguh itu perasaan campur yang benar2 teraduk secara sempurna.
Apakah yang terjadi sekarang ini adalah pratayang dari perasaan campur aduk sempurna yang akan terjadi?
Ataukah cuma saya yang terlalu sensitif.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar