Selasa, 31 Maret 2009
CAPEK
Tapi takut mati juga.
Sebenarnya bukan bosan hidup kali ya,
bosan dengn kondisi.
Kapan ya smuanya berubah seperti yang AKU inginkan?
Bosan di ombang-ombing oleh kondisi yang tak nyaman.
Baru mau senang eh, yang buat AKU senang dah kabur jauh tanpa bisa di cegah.
Baru mau senang lagi, eh kabur lagi.
Udah lumayan lama senang, eh ilang lagi.
Udah lama senangnya, eh kabur lagi.
Capek senang jadinya.
Takut kabur dan hilang.
Mungkin, silver liningnya belum kelihatan ya.
Semoga aja, segera terlihat.
CAPEK
Mau istirahat aja.
Kamis, 26 Maret 2009
Cugak a.k.a disappointed
Hidup sangat indah dan berharga
Tapi hidup juga sering kali membuat kecewa
Cugak
disappointed.
Kenapa ya?
Hal-hal yang bermula indah
seringkali bermuara pada kekecewaan.
Hidup menjadi kehilangan harga.
Makanya banyak yang bunuh diri.
Apalagi bilA harga hiduo turun drastis.
seperti harga karet dan sawit beberapa waktu yang lalu.
Contohnya saja,
Persahabatan.
Persahabatan itu menambah nilai hidup.
Bahkan sampai berlipat-lipat.
Persahabat juga adalah obat penenang paling dahsyat.
Mendekatlah pada sahabat, rangkullah ia, maka sedikit banyak pastilah tenang.
Bila kemudian persahabatan terkikis.
Makin menipis tergerus waktu dan keadaan.
Lalu kemudian hilang ditiap angin.
Apakah nilai hidup kita tetap pada tingkatnya,
Atau malah terjun bebas.
Nilai hidupku terjun bebas.
Kehilangan sahabat adalah salah satu bencana dalam hidup ku ini.
Kenyataannya:
Darah bisa tumpah
Daging bisa terkoyak.
Apalagi cuma air biasa yang pasti keluar lewat urethra.
HIks hiks hiks
Sedih.
Minggu, 15 Februari 2009
Aku stress
Beberapa hari ini capek
Capek perasaan
Beberapa hari ini aku menjadi sadar bahwa aku ini adalah orang yang cemburuan.
Cemburu yang membakar
membakar sampe ke perut.
Kok perut terbakar ya?
memang panas perut ku
Iseng aja, aku analisis sendiri penyakit perut panas itu.
Sumber cemburu kan dari hati.
Hati sanubari, bahasa kerennya solar flexus.
Nah posisi solar fleksus itu kan, kalo gak salah, pas di belakang perut.
Ketika cemburu berat, kan solar fleksusnya terbakar.
Nah, menyebarlah panas itu sampe ke perut.
Namanya aja solar, sol, matahari.
Bodoh ya.
Dan yang parahnya lagi
efek perut terbakar itu.
feses tang terlalu encer dan susah diatur.
Gawat ya.
Kamis, 11 Desember 2008
Selasa, 09 Desember 2008
Perasaan Baru
Ketika terlalu lama terbenam badan di dalam lumpur, menjadi kisut kotorlah kulit ini. Si pemilik kulitpun bahkan terlupa akan rona sebenarnya kulit yang menyeliputi tubuhnya.
Kemudian, bila, suatu waktu, tercurahlah hujan dari pintu-pintu langit dan terbaringlah ia sang tubuh di bawah cakrawala, maka tersapulah kembali ke bumi lumpur-lumpur yang membungkus. Terbitlah dari balik lumpur yang telah mengalir itu rona kulit yang sebenarnya. Bersih sungguh lagi cerah.
Terkejutlah ia dan kemudian merasakan perasaan aneh yang sepertinya pernah ia rasakan dulu. Tapi sungguh-sungguh terlupa ia apa ia disebut. Mungkin bahagia ia.
Telah lama dan terlupa saya ini bagaimana rasanya jatuh cinta. Terlalu lama saya terbenam dalam kolam-kolam lumpur tanpa perasaan yang langsung meresap ke dalam kalbu dan menyelaputinya tanpa celah pun sedikit.
Ketika sepasang mata indah mencurahkan perasaan cinta kepadaku, terkejut aku akan betapa indahnya cinta itu. Telah lama terlupalah aku dengan perasaan itu.
Semoga kekallah perasaan ini dan perasaan ini yang ia miliki.
Kenangan - sel lemak dalam otak
Suatu sore saya sedang santai berbaring sambil mendengarkan lagi Mbak TTDJ. Lagu itu berjudul, kalo tidak salah, Separuh Hidup.
Sambil mendengar santai separuh sadar separuh tidur, gambar-gambar masa lalu bergentayangan keluar.
Setahun yang lalu, ternyata saya tidak sendirian seperti sore ini.
Saya memiliki kekasih hati.
Ya, ternyata itu tadi, lagu itu, lagu dia, lagu yang mewarnai hubungan kami.
Lagu yang aku insafi sebagai perasaanku kepada kekasih hatiku tadi.
Tidak ingin saya berbicara tentang kisah kasih bahagia saya dan dia yang berakhir tak indah dan tragis.
Ingin saya berbicara tentang kenangan.
Kenangan itu seperti lemak alot yang sangat sulit sekali untuk larut. Mengendap ia seakan tak tampak. Tapi sejatinya masih disana.
Atau mungkin kenangan itu sendiri berwujud seperti sel lemak dalam ruang otak? Mengendap lama tak hilang-hilang.
Jujur saja, kenangan indah saya dengan dia itu tidak enak untuk di ingat. Terlintas ia maka terenyuh perasaan ini.
Apakah kenangan itu bermetamorfosis, seperti kupu-kupu, tapi berkebalikan prosesnya. Dari suatu yang indah kepada suatu yang buruk rupa.
Sekarang mungkin status kenanganku dengan kekasih hatiku tadi adalah kenangan buruk.
Tapi ketika aku berfikir-fikir, bila ada dokter yang mampu memotong sel-sel lemak otak saya tadi, maka saya akan memilih untuk selamanya untuk hidup dengan kenangan itu.
Aneh memang, tidak menyenangkan tapi tidak mau dilepas.
Atau mungkin perasaan saya kepadanya juga sudah berubah menjadi sel lemak yang tinggal nyaman dalam hati saya?
Entahlah yang pasti, kadang aku juga rindu kepadanya.
Perasaan campur

Palembang, 5 Agustus 2008
Saya mencintai pasangan saya. Kami membuat janji untuk bertemu dan menonton film di 21. Saat tiba di lokasi, saya menerima sms, begini bunyinya:
"a kita gak usah nonton ya, mau ketemu ama temen dulu. maaf ya a".
Kira2 begitu bunyinya.
Dgn jantung yang berdegap kira2 3x lebih cepat dari normal, saya menelepon dia. Kalo tidak salah, begini isi percakapan itu:
Saya: ade lagi dimana?
Pasangan saya: sama temen a?
Saya: Kok gak jadi nonton sama a?
Pasangan saya: tadi ketemu temen, gak enak a soalnya dia baru dateng ke palembang. Temen smp ku a.
Saya: Kamu janjian sama siapa?
Pasangan saya: Sama a.
Saya: ketemunya sama siapa?
Pasangan saya: ya, kita gak jadi aja hari ini. Besok aja.
dan seterusnya.
Akhirnya saya mendatangi dia dan teman2nya.
Nonton bareng mereka.
Tujuan tercapai, nonton bersama pasangan saya, plus teman2nya.
Sesungguhnya, kejadian nonton itu bukan sepenuhnya seperti yang saya harapkan. Ia lebih banyak bersama teman2nya dalam bercakap2 daripada kepada saya.
Tapi apa yang bisa saya harapkan. Sebagai orang yang 5 tahun lebih tua dari dia, saya harus mengalah dalam diam. Daripada mulut saya yang kadang2 sangat pedas ini mengeluarkan kata2 tajam dan pasangan saya mendiamkan saya seminggu lebih. Mengalah, sekiranya, lebih baik.
Saya pulang lebih dulu pada pukul 8 malam. Ia terus bersama temannya. Ia sampe di rumahnya kira2 pukul 11 malem lewat 15 m3nit. Saya tahu karena saya meminta dia memberi kabar lewat sms ketika dia pulang.
Ketika sampai di rumah saya merenung. Apakah saya sudah sedemikian berubah dari saya yang dulu?
Apakah ini perubahan yang positif?
Dulu tidak seperti itu, saya akan meluapkan perasaan saya. saya akan marah bila dibuat seperti itu. Saya akan berteriak-teriak. Dan saya akan merasa nyaman setelahnya. Lalu menyesal. Dan meminta maaf.
Sekarang, saya hanya menahan kemarahan di balik dada saya. Bergemuruh memang. Tapi gemuruh itu, lebih mengarah ke mata dari pada mulut.
Apakah ini perubahan yang baik?
Semalam juga, saya mengalami tumpang tindih rasa, perasaan yang campur aduk.
Mulai dari kecewa, lalu marah, kemudian takut ditinggalkan, dan lagi sedih, dan juga perih hati, kemudian lagi kangen, berlanjut dgn kesepian, dst. Semuanya bertumpang tindih dan bercampur aduk. Es campur enak, perasaan campur, sungguh tidak enak.
Tertidur saya kemudian. Tanpa mimpi. Terbangun pada waktu fajar, dgn perasaan yang sama ketika saya belum tertidur. Sungguh perasaan yang aneh ketika bangun pagi2.
Pagi ini saya berusaha kembali ke masa lalu. Apakah saya pernah mengalami hal ini dahulu kala. PERNAH, ini pernah terjadi. Bahkan jauh lebih dahsyat. Ketika pasangan saya pada masa lalu berubah tingkah laku karena perasaannya kepada saya mengalami penurunan intensitas dan akhirnya hilang. Sungguh itu perasaan campur yang benar2 teraduk secara sempurna.
Apakah yang terjadi sekarang ini adalah pratayang dari perasaan campur aduk sempurna yang akan terjadi?
Ataukah cuma saya yang terlalu sensitif.
