Kamis, 11 Desember 2008
Selasa, 09 Desember 2008
Perasaan Baru
Ketika terlalu lama terbenam badan di dalam lumpur, menjadi kisut kotorlah kulit ini. Si pemilik kulitpun bahkan terlupa akan rona sebenarnya kulit yang menyeliputi tubuhnya.
Kemudian, bila, suatu waktu, tercurahlah hujan dari pintu-pintu langit dan terbaringlah ia sang tubuh di bawah cakrawala, maka tersapulah kembali ke bumi lumpur-lumpur yang membungkus. Terbitlah dari balik lumpur yang telah mengalir itu rona kulit yang sebenarnya. Bersih sungguh lagi cerah.
Terkejutlah ia dan kemudian merasakan perasaan aneh yang sepertinya pernah ia rasakan dulu. Tapi sungguh-sungguh terlupa ia apa ia disebut. Mungkin bahagia ia.
Telah lama dan terlupa saya ini bagaimana rasanya jatuh cinta. Terlalu lama saya terbenam dalam kolam-kolam lumpur tanpa perasaan yang langsung meresap ke dalam kalbu dan menyelaputinya tanpa celah pun sedikit.
Ketika sepasang mata indah mencurahkan perasaan cinta kepadaku, terkejut aku akan betapa indahnya cinta itu. Telah lama terlupalah aku dengan perasaan itu.
Semoga kekallah perasaan ini dan perasaan ini yang ia miliki.
Kenangan - sel lemak dalam otak
Suatu sore saya sedang santai berbaring sambil mendengarkan lagi Mbak TTDJ. Lagu itu berjudul, kalo tidak salah, Separuh Hidup.
Sambil mendengar santai separuh sadar separuh tidur, gambar-gambar masa lalu bergentayangan keluar.
Setahun yang lalu, ternyata saya tidak sendirian seperti sore ini.
Saya memiliki kekasih hati.
Ya, ternyata itu tadi, lagu itu, lagu dia, lagu yang mewarnai hubungan kami.
Lagu yang aku insafi sebagai perasaanku kepada kekasih hatiku tadi.
Tidak ingin saya berbicara tentang kisah kasih bahagia saya dan dia yang berakhir tak indah dan tragis.
Ingin saya berbicara tentang kenangan.
Kenangan itu seperti lemak alot yang sangat sulit sekali untuk larut. Mengendap ia seakan tak tampak. Tapi sejatinya masih disana.
Atau mungkin kenangan itu sendiri berwujud seperti sel lemak dalam ruang otak? Mengendap lama tak hilang-hilang.
Jujur saja, kenangan indah saya dengan dia itu tidak enak untuk di ingat. Terlintas ia maka terenyuh perasaan ini.
Apakah kenangan itu bermetamorfosis, seperti kupu-kupu, tapi berkebalikan prosesnya. Dari suatu yang indah kepada suatu yang buruk rupa.
Sekarang mungkin status kenanganku dengan kekasih hatiku tadi adalah kenangan buruk.
Tapi ketika aku berfikir-fikir, bila ada dokter yang mampu memotong sel-sel lemak otak saya tadi, maka saya akan memilih untuk selamanya untuk hidup dengan kenangan itu.
Aneh memang, tidak menyenangkan tapi tidak mau dilepas.
Atau mungkin perasaan saya kepadanya juga sudah berubah menjadi sel lemak yang tinggal nyaman dalam hati saya?
Entahlah yang pasti, kadang aku juga rindu kepadanya.
Perasaan campur

Palembang, 5 Agustus 2008
Saya mencintai pasangan saya. Kami membuat janji untuk bertemu dan menonton film di 21. Saat tiba di lokasi, saya menerima sms, begini bunyinya:
"a kita gak usah nonton ya, mau ketemu ama temen dulu. maaf ya a".
Kira2 begitu bunyinya.
Dgn jantung yang berdegap kira2 3x lebih cepat dari normal, saya menelepon dia. Kalo tidak salah, begini isi percakapan itu:
Saya: ade lagi dimana?
Pasangan saya: sama temen a?
Saya: Kok gak jadi nonton sama a?
Pasangan saya: tadi ketemu temen, gak enak a soalnya dia baru dateng ke palembang. Temen smp ku a.
Saya: Kamu janjian sama siapa?
Pasangan saya: Sama a.
Saya: ketemunya sama siapa?
Pasangan saya: ya, kita gak jadi aja hari ini. Besok aja.
dan seterusnya.
Akhirnya saya mendatangi dia dan teman2nya.
Nonton bareng mereka.
Tujuan tercapai, nonton bersama pasangan saya, plus teman2nya.
Sesungguhnya, kejadian nonton itu bukan sepenuhnya seperti yang saya harapkan. Ia lebih banyak bersama teman2nya dalam bercakap2 daripada kepada saya.
Tapi apa yang bisa saya harapkan. Sebagai orang yang 5 tahun lebih tua dari dia, saya harus mengalah dalam diam. Daripada mulut saya yang kadang2 sangat pedas ini mengeluarkan kata2 tajam dan pasangan saya mendiamkan saya seminggu lebih. Mengalah, sekiranya, lebih baik.
Saya pulang lebih dulu pada pukul 8 malam. Ia terus bersama temannya. Ia sampe di rumahnya kira2 pukul 11 malem lewat 15 m3nit. Saya tahu karena saya meminta dia memberi kabar lewat sms ketika dia pulang.
Ketika sampai di rumah saya merenung. Apakah saya sudah sedemikian berubah dari saya yang dulu?
Apakah ini perubahan yang positif?
Dulu tidak seperti itu, saya akan meluapkan perasaan saya. saya akan marah bila dibuat seperti itu. Saya akan berteriak-teriak. Dan saya akan merasa nyaman setelahnya. Lalu menyesal. Dan meminta maaf.
Sekarang, saya hanya menahan kemarahan di balik dada saya. Bergemuruh memang. Tapi gemuruh itu, lebih mengarah ke mata dari pada mulut.
Apakah ini perubahan yang baik?
Semalam juga, saya mengalami tumpang tindih rasa, perasaan yang campur aduk.
Mulai dari kecewa, lalu marah, kemudian takut ditinggalkan, dan lagi sedih, dan juga perih hati, kemudian lagi kangen, berlanjut dgn kesepian, dst. Semuanya bertumpang tindih dan bercampur aduk. Es campur enak, perasaan campur, sungguh tidak enak.
Tertidur saya kemudian. Tanpa mimpi. Terbangun pada waktu fajar, dgn perasaan yang sama ketika saya belum tertidur. Sungguh perasaan yang aneh ketika bangun pagi2.
Pagi ini saya berusaha kembali ke masa lalu. Apakah saya pernah mengalami hal ini dahulu kala. PERNAH, ini pernah terjadi. Bahkan jauh lebih dahsyat. Ketika pasangan saya pada masa lalu berubah tingkah laku karena perasaannya kepada saya mengalami penurunan intensitas dan akhirnya hilang. Sungguh itu perasaan campur yang benar2 teraduk secara sempurna.
Apakah yang terjadi sekarang ini adalah pratayang dari perasaan campur aduk sempurna yang akan terjadi?
Ataukah cuma saya yang terlalu sensitif.
love’s end

when love ends, where is its end?
Would it end in a deeper friendship or eternal hatred?
In my shallow experience, it usually ends in eternal hatred. Of course, everyone’s love’s end would vary according to each one’s personality.
Some friends shared their experience about what happened to their feelings when they broke up. Some have the same end as I have. a few save their love for the chance of getting back. And most forget their grief and pain in a short time.
Breaking up when you don’t want it is most painful. As in my experience, I will never be healed from the pain. The humiliation will linger forever in my life.
Getting a new relationship in a way can save us from the pain and humiliation. Moreover if the new one has a better quality than the former one.
What about you?
a feeling of not being loved
Feeling. How do you define the word?
Now, my skin feels little itchy. My eyes little sore. My stomach little uneasy. My feeling little not being loved.
Let the word left undefined by me. Well, you could always define the word yourself.
I feel a little bit not being loved. I am in love with someone who seems to love me. But this uneasy feeling sprang all the way together with our happy relationship. is that a kind of bad omen?
When I tried to find how could the feeling came suddenly, the guilt feeling attacked me. How could I think that the one who shows me love could not love me?
It could be that I am too sensitive in interpreting words. I usually interprete word beyond what it literally means. And so, sometimes, it would result in chaotic feeling of not being loved properly by the lover which I never try to express to the lover.
I always think that I am too sensitive.
But, could my feeling be right?
How’s the wordy world gone by?

The world has its own way. We also have our way of our own.
Do we run our own way, or do we run the way god has prepared us?
Logically, I never can decide which one is more logic than the other one. But, fortunately, my parents had taught me how to eliminate the confusion: "never think about if it is our way or the God’s which he has prepared for us. Just lead the way."
"I had an unexpected but the happiest moment in my life in the past time (Well, specific time is not important). It was marvellous but surprising and beautiful; I had a lover who loved me and I loved the one. The time was the most elaborate and enchanting time. I was tremendously happy.
Something which is tremendous usually ends up shortly, or ends up unexpectedly if not short. That was what happened to me. My story ended. I was broken hearted.
It was time to use my parents magic word: Just lead the way. I tried to lead the way. The pain didn’t went away but I knew that I must lead the way with asking the causes.
It feels better now. I could survive by not asking what is the cause of something.
But, actually, I never trully try to not ask the causes. I have doubt about how the world’s gone by? Is it our own way that we are leading? Is it the lord’s way which is prepared before?
to survive, I never need to ask that. But when trying to get the essence of ways, everyone needs to think about that. It is confusing for me, but the hell with that thing.
I’ve got the question. Has anyone got the answer?
